Saat kami benar tapi tak didengar dan dianggap salah

Hari ini saya dan suami sedang dalam perjalanan menuju Kabupaten Sijunjung dari Kota Padang.
Dipertengahan jalan, yaitu di sekitar kawasan kita solok, terjadi proses penilangan oleh Polisi Polres Solok.
Seperti biasa, cek STNK dan SIM.
Suami saya kemudian ditilang pak polisi, karena SIM beliau hilang dan hanya bs menunjukkan STNK.
Tapi saya sepenuhnya tau bahwa suami saya tidak bersalah.
2 minggu yang lalu, ketika kami pergi jalan jalan IDI Sijunjung ke Painan, dompet suami saya dicopet orang.
Kemudian suami langsung mengurus surat keterangan hilang ke Polres Painan. Esoknya suami saya langsung mengurus STNK ke Samsat dan SIM ke Polres.
STNK dari Samsat sudah keluar, setelah membuat iklan dikoran, cek fisik kendaraan dan administrasi lainnya.
Saat ingin mengurus SIM di Polres Padang, tertulis bahwa saat ini sedang tidak menerima pembuatan SIM karena blangko SIM yang habis. Baru bisa membuat SIM pertengahan Agustus. Secara tidak langsung, suami saya blm bisa mengurus SIM sampai hari ini karena negara belum bisa memfasilitasi.

Dan sekarang saya ingin bertanya, apa yang membuat kami harus ditilang?
Ketika kamu sudah menggunakan helm, membawa STNK dan bukti surat kehilangan SIM?
Bukan suami saya tidak punya SIM, tapi negara yang sedang tidak menerima pembuatan SIM, lantas kenapa kami yang harus bersalah dan ditilang?
Suami saya bukannya tidak Punya SIM, tapi SIMnya hilang karena kejahatan orang, karena orang yang mencopet dompet suami saya, lalu dimana peran hukum dalam menanggapi kejahatan ini?
Kenapa kami yang tak bersalah ditilang?
Apakah kami salah karena kami dicopet?
Apakah kami salah ketika kami ingin mengurus SIM tapi negara tidak sedang menerima pembuatan SIM?
Lalu apa salah kami sampai kami ditilang?

Bahkan pak polisipun mengancam akan membawa motor kami, atas dasar apa motor yang jelas STNKnya atas nama suami saya dibawa?

Apakah kami harus terus diam diatas ketidak adilan ini?
Apakah kami harus pasrah dalam tuduhan kami bersalah, padahal ini bukanlah salah kami?
Dimana hukum yang adil yang telah dijanjikan untuk kami?

Rindu

Malam ini begitu besar rasa bergejolak didalam jiwa ini.
Rindu yang mendalam menggetarkan hati ini.
Ada ruang yang hampir kosong, hampir terlupakan
Dan sesungguhnya hanya ruang itulah yang akan memberikan kebahagiaan hakiki
Ruang yang seharusnya hanya diisi oleh kecintaan dan ketaataan pada Rabb semesta Alam
Ruang yang memberikan kerinduan begitu besar untuk bermesaraan dengan Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang

Ya Allah, izinkan hambaMu kembali menuju cahayaMu
Kembali merindukan banyak waktu bersamaMu
Kembali merasakan ketenangan hanya dengan mengingatMu
Dan mencintai karena besarnya kecintaan padaMu
Tuntun hamba untuk kembali padaMu yaa Rabb
Hambamu kini, begitu merindukanMu

-Sijunjung, 29 Juli 2016

Bersandar hanya pada Allah

Alasan kenapa hidup harus disandarkan pada Allah karena :
1.  hanya Allah yang Maha memberikan rezeki
2. Kasih sayang Allah sangat sempurna
3. Hanya Allah yang Maha kuat
4. Allah yang Maha hidup
Kehidupan sesungguhnya adalah hidup dengan yang Maha hidup
Orang2 yang mengakhiri hidup untuk yang Maha hidup maka itulah kehidupan yang sesungguhnya. Yaitu mereka yang syahid dijalan Allah.

Maka ketika ditanya?
Untuk siapa anda hidup?
Ketika hidup untuk yang Maha hidup maka kelak kehidupan yang sesungguhnya akan kita temui.
Kehidupan sesungguhnya kelak yaitu ketika kita berada disisi Allah, diakhirat kelak,  4 kriteria kehidupan sesungguhnya, kehidupan yang sempurna didalam surga, yaitu :
1. hidup tiada mati
2. Sehat tiada sakit
3. Muda tiada tua
4. Serba kecukupan tanpa kekurangan

Siapapun yang berada dalam keadaam duka cita, ingatlah bahwa anda tidak diciptakan untuk menjalani hidup dengan kegelisahan dan kesedihan,hilangkanlah dengan dzikir kepada Allah
“Ya hayyu ya qayyum birahmatiika astaghis”
(Maaf jika penulisannya ada yg salah)

Orang yang ingin hatinya selalu hidup
Hendaklah selalu membacakan ya hayyu ya qayyum

*dikutip dari sebuah kajian subuh

Al-Hayyu (Allah yang Maha hidup)

Hidup bagi Allah adalah kehidupan sempurna. Maka penuh dg sanjungan
Sedangkan hidup bagi manusia akan berakhir, sehingga tidak ada sanjungan bagi manusia

Tawakallah, bersandarlah, sandarkanlah hidup dan serahkanlah cintamj kepada yang maha hidup
Yang kehidupannya tiada berakhir yaitu Allah Ta’ala
Manusia tidak akan bahagia ketika menyandarkan hidupnya pd sesuatu yang akan berakhir

Allah maha hidup mengurusi makhluk-makhluknya
Allah selalu berada dalam kesibukan
Hidup Allah tiada ngantuk dan tiada tidur
Kehidupan Allah adalah kehidupan abadi
Sempurnalah hidup Allah

Tidur adalah saudara kematian
Ketika hidup ditemani tidur, maka menandakan bahwa hidup manusia adalah kehidupan yang akan berakhir

Hidup dunia hanya sementara saja, sedangkan kehidupan disisi Allah adalah kehidupan yang abadi dan sesungguhnya

Sempurnanya hidup Allah karena Allah tidak bermula dari ketiadaan dan tidak berakhir dengan ketiadaan.

Sedangkan kehidupan manusia berada diantara ketiadaan. Dari sesuatu yang tiada menjadi sesuatu yang tiada

Allah tidak beranak dan Allah tidak akan pernah mati
Sedangkan makhluk didunia ini beranak sehingga kehidupan manusia kelak akan mengalami akhir

Karena hanya Allah yang maha hidup, yang tidak akan pernah berakhir
Maka serahkanlah, gantungkanlah hidupmu sepenuhnya pada Allah

Allah  tidak membuat manusia dg fitrah untuk mandiri secara absolut
Allah menciptakan manusia dlm keadaan lemah
Sanjungan yang begitu kecil membuat manusia bahagia, teguran yang kecil membuatnya sedih, luka yang kecil membuatnya sakit

Sehingga mustahil ketika kita memutuskan untuk mandiri dlm hidup hidup kita. Karena kita harus ttp bergantung pada sesuatu. Dan hanya pada Allah yang sempurna hidupnyalah tempat kita menggantungkan seluruh hidup kita. Bukan pada sesuatu yang akan berakhir.

Jika ada yang bertanya, siapa yg palinh bahagia dalm hidup?
Yaitu org yang menyandarkn hidupnya hanya pada Allah

Fase transisi “post power syndrome”

lumayan sulit ternyata memulai menulis lagi, (saya sengaja menulis ini biar ada prolog)

Alhamdulillah, tak terasa sudah 5 tahun saya menjalani profesi impian saya ini. 3,5 tahun di jenjang pendidikan sarjanan kodokteran dan 1,5 tahun di jenjang pendidikan profesi dokter. Alhamdulillah sudah melewati Ujian Kompetensi dokter, semoga diberikan kelulusan (aamiin) dan dalam waktu dekat semoga impian ini akan benaran terwujud yaitu sumpah dokter. Saat langkah awal sebagai dokter akan dimulai. Saya yakin ini langkah awal karena saat inilah saya akan merasakan bagaimana menjadi dokter sesungguhnya, bahwa dokter kelak akan bertanggung jawab secara penuh terhadap pasien yang ia hadapi, saat ilmu ilmu yang dahulu berbentuk tulisan, saat ini harus di ejawantahkan menjadi ilmu yang berfungsi untuk membantu orang lain.

saya tau ini adalah fase transisi, saya menyebutnya post power syndrome. kenapa?

5 tahun terakhir ini, hidup saya penuh dengan jadwal, penuh dengan targetan, jadwal kuliah yang padat, jadwal organisasi disela sela jadwal kuliah dan weekend, jadwal jaga malam, jadwal ujian, jadwal tarbawi, dan jadwal lainnya yang memenuhi hari hari saya. sehingga setiap harinya, tak ada kebingungan dalam melalui hari hari yang akan dijalani.

Tapi saat ini, mungkin dalam waktu beberapa bulan, sudah tidak ada lagi jadwal rutin yang mengharuskan saya bergerak setiap hari, fase saat ini adalah fase memilih hidup masing-masing. mulai jauh dari lingkungan, jauh dari teman seperjuangan, dan  harus menentukan hidup kita masing-masing, seberapa jauh kita ingin bermanfaat, kita yang menentukan saat ini.

Tentunya fase fase transisi adalah fase yang membuat saya gamang, menentukan arah hidup kedepannya, tapi saya harus mengembalikan semua hal yang saya pilih untuk satu tujuan yang saya pegang kuat, yaitu ridha Allah. apapun yang kelak harus saya hadapi, saya pilih dan saya jalani bersama masa depan saya, saya hanya ingin tujuan ini tidak luntur dan tergerus oleh kondisi dan waktu.

keinginan lain yaitu agar kelak saya bisa membahagiakan mama dan papa, orang yang paling berjasa dalam hidup saya, orang yang paling saya sayang dan paling ingin saya bahagiakan. karena saya tidak pernah tau sampai kapan Allah memberikan kesempatan itu pada saya. tapi selagi saya bisa saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. semoga kelak gelar dokter inipun dapat membuat mereka tersenyum bahagia.

Random

Ada hal yang terkadang tanpa kau sadari merubah secara perlahan apa yg kau pikirkan
Ada banyak hal diluar sana yg ingin kau lakukan
Tp keterbatasan diri dan kecilnya pemikiran ini yg seringkali membatasi
Ada keingingan untuk pergi dan lari
Tapi kau tetap harus bertahan

Ada perasaan yg begitu mengganggu kau
Walau kau tau, kaupun tak ingin itu
Saat kau mulai rapuh dan seakan terjatuh
Saat itu kau mulai tau.. Siapa yg akan memberikan tangannya untuk membuat kau kembali berdiri

Tak apa kau jatuh terpuruk dan menangis sekuat kuatnya
Tp tetaplah berusaha untuk bangkit dan merubah tangismu menjadi semangat baru
Karena akan selalu ada hal yg membuatmu bangkit melawan keterpurukan ini
Selalu ada Allah ..hanya Allah.. Yang selalu ada untukmu
Selalu ada Allah yang akan membantuMu bangkit..selalu ada Allah bersamamu
Yang takkan pernah meninggalkanmu.. Dan akan slalu ada bersamamu..
Allahu..rinduu